Nobody Said It Was Easy
Yup, nobody said it was easy. Mengurus anak tidaklah mudah. Menginginkannya dan menjalankannya adalah dua hal yang berbeda. Jangan salah, I'm so very happy to have her in my life. Gimana tidak, menunggu si bocah cantik ini nongol 10 tahun lamanya. Tapi semua itu butuh usaha. Mendapatkannya butuh usaha, merawatnya pun pasti butuh usaha. Sebelum keguguran pertama kali di 2011, aku punya pekerjaan, mempunyai penghasilan sendiri, rasanya untuk melakukan segala sesuatu masih merasa aman. Tapi kemudian memutuskan untuk tidak bekerja karena ingin fokus untuk hamil, lama-lama kepedean itu hilang karena harus bergantung pada suami. Dan rasanya tidak enak tidak menghasilkan apapun, akhirnya aku buka usaha kue kecil-kecilan, tapi kok ternyata lelah juga usaha sendiri tanpa bantuan, jadinya tidak fokus lagi untuk hamil. Akhirnya berhenti lagi.
Sekarang, setelah memiliki si buah hati yang lucu ini, mama hampir mati gaya hehehe...bulan-bulan pertama tentunya tidak bisa disambi dalam hal merawat anak, alhasi kantong jadi menipis, walaupun papanya sangat mencukupi kebutuhan kami, tapi rasanya aneh dan tidak enak tidak punya penghasilan sendiri. Apalagi kalau lagi ingin membelikan si kecil sesuatu ekstra yang di luar kebutuhan dia sehari-hari tanpa harus melapor ke papanya buat apa dibeli dan kenapa ;) Nah, sekarang ini mau mulai lagi usaha, pertama jahit tas dulu. Lumayan lah penjualannya, tapi masih belum bisa menjanjikan waktu yang pas untuk customer karena proses pembuatannya pun masih menunggu si anak bisa 'dicuekin' sebentar sementara dia main sendiri. Tapi rasanya masih belum cukup, karena menjahit sepertinya masih ada waktu jeda dalam penjualannya, akhirnya coba membuat kue lagi. Nah ini dia butuh perjuangan ekstra dan time management yang baik. Agak sedikit membantu karena si cantik sudah mulai bisa main sendiri, dan sepertinya dia mengerti kalau mamanya sedang masak jadi tidak rewel. Tapi tentunya tidak bisa kelamaan dicuekin, nanti kalau sudah menangis jadi tidak mau lepas. Alhasil, mama bolak-balik dapur dan kamar dan mengatur waktu yang adil untuk keduanya. Masih butuh perjuangan juga ketika pesanan sudah jadi, mengatur pengiriman, karena mama harus mantengin handphone terus, ini yang buat si anak kesal. Agak senewen kalau pesanan sudah siap dijemput dan harus tektokan sama yang jemput tapi anak menangis karena butuh perhatian mamanya, lumayan deh spaning dikit. Tapi harus selalu mengingatkan diri, jangan lampiaskan stress ke anak. Karena aku telah membuat pilihan, jadi harus bertanggung hawab terahadap pilihan itu. Sekarang hanya perlu lebih baik lagi mengatur waktu dan tenaga, agar ketika sedang bersama si kecil, mamanya tidak sedang kehabisan tenaga sehingga perhatian ataupun rasa kasih sayang berkurang. Bismillah dan berdoa setiap hari agar lancar...itu kuncinya. Better said than done ;)



Komentar
Posting Komentar